Keluarga Bahagia Impian Semua Orang

                                                Keluarga Bahagia Impian Semua Orang

Pembaca Media Online Reformasiindonesia yang budiman, berbicara mengenai KB adalah merupakan salah satu usaha untuk mencapai kesejahteraan dengan jalan memberikan nasehat perkawinan,pengobatan kemandulan dan penjarangan kelahiran (Depkes RI, 1999; KB merupakan tindakan membantu individu atau pasangan suami istri untuk menghindari kelahiran yang tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan, mengatur interval diantara kelahiran (Hartanto, 2004; 27). KB adalah proses yang disadari oleh pasangan untuk memutuskan jumlah dan jarak anak serta waktu kelahiran (Stright, 2004; 78).

Tujuan Keluarga Berencana meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak serta mewujudkan keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera melalui pengendalian kelahiran dan pengendalian pertumbuhan penduduk Indonesia. Di samping itu KB diharapkan dapat menghasilkan   penduduk yang berkualitas, sumber daya manusia yang bermutu dan meningkatkan kesejahteraan keluarga. Sasaran dari program KB, meliputi sasaran langsung, yaitu pasangan usia subur yang bertujuan untuk menurunkan tingkat kelahiran dengan cara penggunaan kontrasepsi secara berkelanjutan, dan sasaran tidak langsung yang terdiri dari pelaksana dan pengelola KB, dengan cara menurunkan tingkat kelahiran melalui pendekatan kebijaksanaan kependudukan terpadu dalam rangka mencapai keluarga yang berkualitas, keluarga sejahtera (Handayani, 2010; 29).

Menurut Handayani (2010:29), ruang lingkup program KB,meliputi:

  1. Komunikasi informasi dan edukasi
  2. Konseling
  3. Pelayanan infertilitas
  4. Pendidikan seks
  5. Konsultasi pra perkawinan dan konsultasi perkawinan
  6. Konsultasi genetik

Peningkatan dan perluasan pelayanan KB merupakan salah satu usaha untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu yang semakin tinggi akibat kehamilan yang dialami wanita.

Dalam upaya meningkatkan keberhasilan program Keluarga Berencana diperlukan petugas terlatih yang mampu memberikan informasi kepada klien, mempunyai pengetahuan, sikap positif, dan ketrampilan teknis untuk memberi pelayanan, memenuhi standar pelayanan, mempunyai kemampuan mengenal masalah, mengambil langkah-langkah yang tepat, penilaian klinis yang baik, memberi saran, dan supervisi berkala. Pelayanan program keluarga berencana yang bermutu membutuhkan pelatihan staf, informasi yang lengkap dan akurat, suasana lingkungan kerja yang kondusif, dan mempunyai visi yang sama tentang pelayanan yang bermutu.

Sistem rujukan bertujuan untuk meningkatkan mutu, cakupan, dan efisiensi pelaksanaan pelayanan metode kontrasepsi secara terpadu. Perhatian khusus terutama ditujukan untuk menunjang upaya penurunan angka kejadian efek samping, komplikasi dan kegagalan penggunaan kontrasepsi. Rangkaian jaringan fasilitas pelayanan kesehatan dalam setiap rujukan berjenjang dari yang paling sederhana sampai ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih kompeten, terjangkau, dan rasional; serta tanpa dibatasi oleh wilayah administrasi.

Tatalaksana dalam melaksanakan rujukan, yaitu: konseling tentang kondisi klien yang menyebabkan perlu dirujuk, kondisi yang diharapkan diperoleh di tempat rujukan, fasilitas pelayanan kesehatan tempat rujukan dituju, pengantar tertulis kepada fasilitas pelayanan yang dituju dan menghubungi fasilitas pelayanan tempat rujukan dituju agar memungkinkan segera menerima rujukan klien.

Pembangunan bangsa tak lepas dari Sumber Daya Manusia (SDM). SDM yang handal adalah penentu suksesnya pembangunan bangsa. SDM mampu mengorganisir strategi pembangunan bangsa,dengan metode dan keahlian yang tentunya bersumber dari disiplin ilmu yang dimiliki.

Jika menilik persoalan diatas sejumput pertanyaan bisa diajukan. Apakah SDM kita sudah bisa dikatakan handal dalam hal kwalitas dan kwantitas? Jika sudah,mengapa kita perlu “mengadopsi” tenaga dan pemikir dari luar negeri. Padahal,masih banyak pengangguran yang menjamur di gang-gang negara. Nah,, ini karena bangsa ini kaya akan penduduk,namun miskin SDM nya. Bagaimana tidak,setiap hari begitu banyak ibu yang melahirkan,dengan latar belakang ekonomi dan SDM yang berbeda. Ibu dengan latar belakang ekonomi dan SDM yang baik tentu menjalani proses perawatan kehamilan dengan asupan gizi yang menunjang perkembangan bayi.

Sedangkan ibu dengan latar belakang ekonomi dan SDM yang bisa dikatakan “buruk” tentu saja tidak menjalani perawatan kehamilan,dalam hal ini asupan gizi yang optimal. Sementara itu,angka kebutuhan dalam rumah tangga yang terus bertambah di barengi dengan harga sembako pun tak ketinggalan meningkat.

Rudi Sabuna, Praktisi Kesehatan Asal Timur Tengah Selatan
/ Ist

Bagaimana seorang suami bisa memenuhi keutuhan hidup keluarga dengan SDM rendah yang ia miliki? Sementara banyak tanggungan yang harus ia pikul. Jika suami yang notabenenya adalah kepala keluarga,pengayom dan pelindung saja masih sulit untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya,dikarenakan jumlah anak yang banyak,dalam ruang lingkup keluarga sebagai suatu komunitas kecil,bagaimana dengan pemerintah memenuhi kebutuhan masyarakat yang kian hari semakin membludak,dengan lapangan pekerjaan yang sedikit. Ini bukan merupakan masalah pemerintah saja,namun juga menjadi Pekerjaan Rumah besar bagi kita semua.

Salah satu program pemerintah guna mengatasi kemiskinan adalah program untuk menjarangkan angka kelahiran, melalui program Keluarga Berencana,yang tercantum dalam UU no 52 tahun 2009. Program ini sudah tentu telah disosialisasikan ke masyarakat. Yang menjadi pertanyaannya adalah apakah masyarakat sudah sepenuhnya mengerti dan menjalankan program tersebut.

Program KB memungkinkan ibu untuk memiliki rentang waktu yang cukup untuk pemulihan kondisi rahimnya, memungkinkan ibu untuk bisa mengurus diri,dan tentu saja kebutuhan rumah tangga bisa terpenuhi. Coba bayangkan ibu dengan banyak anak. Kapan ibu bisa mengurus diri. Baru beberapa bulan melahirkan,sudah ada anak lagi.

Proses pemulihan rahimnya belum sempurna. Ibu harus ekstra kerja, mengurus suami,anak,ditambah kondisi ibu yang sedang hamil. Apalagi jika status ekonomi keluarga rendah. Suami tidak bisa memberi asupan makanan yang bergizi,kurangnya pengetahuan tentang perawatan kehamilan,ditambah akses ke fasilitas kesehatan yang masih rendah. Akibatnya proses persalinan bisa saja dibantu oleh tenaga tidak profesional (dukun), yang tidak menjamin suksesnya proses persalinan.

Program KB berarti,keluarga merencanakan kapan punya anak,membantu suami dan istri untuk menentukan jumlah anak, dengan selisih waktu yang memungkinkan kesejahtraan dalam rumah,dimana anak-anak semuanya bisa disekolahkan, jangan sampai hanya anak pertama,atau anak laki-laki saja yang disekolahkan ( menurut budaya masyarakat Timur,anak laki-laki penentu keturunan ),mengingat biaya pendidikan yang mahal.

Jangan jauh- jauh berfikir tentang pendidikan dulu,toh pemenuhan kebutuhan pangan tiap hari saja masih sulit. Padahal pangan adalah kebutuhan utama. Pemenuhan kebutuhan pangan yang masih minim membuat anak-anak makan apa adanya,tanpa memperhitungkan kandungan gizi yang terserap tubuh.

Coba kita cermati kondisi geografis di provinsi kita,Nusa Tenggara Timur,yang beriklim tropis dengan padi, jagung,ubi,sagu adalah bahan makanan yang sudah familiar sampai pada masyarakat “akar rumput”, sementara pekerjaan masyarakat pada umumnya adalah bertani. Tentu jagung,padi,ubi,dan sagu adalah santapan “lezat” bagi anak-anak mereka” walaupun kita tahu,makanan seperti itu mengandung karbohidrat,membuat kenyang,menambah tenaga untuk beraktivitas,tapi tidak membantu dalam perkembangan motorik anak,dimana membantu anak berfikir kritis.

Tak banyak orang tua yang berfikir pemenuhan gizi bagi anak,tak ada uang tuk membeli susu..Asal kenyang, tak apalah.Gizi urusan kemudian. Secara tak sadar,kita sendirilah yang memperburuk kondisi SDM bangsa kita. Lewat perilaku-perilaku sederhana itu,setidaknya kita membantu memberikan andil terhambatnya pembangunan bangsa.

Anak-anak bangsa yang adalah tonggak pembangunan,malah tidak mendapat pendidikan yang layak akibat orang tua yang masih mendahulukan kepentingan lain( Tentunya kebutuhan makan dan minum setiap hari). Di samping itu,pembangunan terus berjalan. Lahan kosong pun seolah habis termakan proyek. Lalu,dengan angka kelahiran yang tinggi,pertambahan populasi manusia,dimana lagi tempat orang-orang mencari nafkah? Duuuuuh,,,,rumit juga akibatnya jika penduduk kian membludak.Sementara itu begitu banyak kasus kejahatan dan kriminal yang tentunya bertolak dari kondisi ekonomi yang buruk,sementara kebutuhan terus meningkat.

Kembali pada masalah KB. Program KB yang ditawarkan oleh pemerintah kurang mendapat respon yang baik oleh masyarakat. Mengapa demikian? Ada yang berasumsi bahwa program KB membatasi jumlah anak,sementara ada kepercayaan dan persepsi bahwa semakin banyak anak,semakin banyak rejeki dalam keluarga tersebut.

Ada juga anggapan bahwa prorgam KB melanggar perintah Allah,”beranak cuculah,bertambah banyak dan penuhilah muka bumi”.Sementara itu persepsi lain adalah perasaan takut penggunaan alat kontrasepsi membahayakan ibu. Hal ini merupakan kendala gagalnya metode KB. Mengapa perlu takut? Toh sudah ada bidan yang akan membantu menerangkan mengenai metode dan alat kontrasepsi yang cocok bagi setiap pasangan.

Perasaan takut yang sudah sudah terlanjur melekat dalam benak pasangan yang membuat mereka enggan untuk berkonsultasi ke bidan atau tenaga kesehatan lain. Setiap orang mestilah berasumsi bahwa respon tubuh setiap individu berbeda terhadap alat kontrasepsi yang ia pakai. Persepsi lain bahwa”banyak anak berarti banyak rejeki merupakan kepercayaan “kolot” yang belum tentu kebenarannya. Bagaimana tidak..kebutuhan rumah tangga setiap hari harus tercukupi,sementara biaya tanggungan anak semakin banyak.

Berapa anak yang bisa disekolahkan sampai perguruan tinggi? Sementara status ekonomi keluarga kurang baik. Lain halnya asumsi masyarakat mengenai perintah Allah” beranak cuculah dan bertambah banyak,penuhilah muka bumi.” Allah berfirman demikian agar setiap manusia berhak hidup,tidak ada janin yang diaborsi,..coba kita berfikir,jika banyak anak,sementara orang tua tidak bisa memberikan gizi yang baik,membiayai sekolah sampai perguruan tinggi,menelantarkan, lantaran kondisi ekonomi yang memprihatinkan.

Apa itu bukan dosa? Anak yang dihadirkan ke dunia bukan hanya semata-mata karena kebutuhan biologis, bukan hanya untuk dirawat atau dijaga,namun lebih dari itu,pengembangan kompetensi perlu dperhatikan,demi kelangsungan hidupnya di hari depan.

Apa kita masih berfikir program KB merugikan? Tidak ada salahnya mencoba.Metode KB bukan hanya menggunakan pil, kondom, Implan dan sebagainya, namun juga menggunakan metode alami, tanpa obat dan bahan kimia , seperti metode kelender, mal, pengamatan lendir, dan sebagainya. Mengapa mesti ragu dan takut? Masyarakat mesti percaya, program yang dicanangkan pemerintah tentu telah melewati uji klinis yang baik.

Apa yang dicanangkan pemerintah, pasti bermanfaat dan demi kesejahteraan masyarakat. Semakin sedikit angka kelahiran, semakin tinggi derajat hidup kita, lapangan pekerjaan dapat terisi,karena anak-anak bangsa bebas menimba ilmu setinggi-tingginya tanpa terbelit masalah ekonomi. SDM semakin cemerlang , ibu pertiwi akan tersenyum, dan bangsa kita tak ketinggalan dari bangsa lain,malah akan tampil lebih bergengsi. Semoga bermanfaat.

Penulis :Helena Lose Beraf (Mahasiswi Kebidanan Stikes Indonesia Maju dan Rudi Sabuna (Masyarakat Kabupaten TTS)*

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *