Angka Tiga Dan Asa Filosofi Harmoni

Paket Harmoni (Benny K. Harman dan Benny A. Litelnoni) / Ist

Kupang-Reformasiindonesia.com. Menjadi sesuatu yang unik ketika berbicara angka. Kenapa angka disebut sebagai hal unik? Karena hampir semua hal di dunia ini bisa diangkakan. Dalam Feng Shui (ramalan kuno dari Cina) dapat memberikan arti dari setiap angka yang dianggap hoki (keberuntungan). Selain feng-shui kita juga memiliki berbagai makna angka tertentu sesuai latar belakang suku, agama dan ras dengan angka yang dianggap spesial dalam tanda petik

Perbedaan angka spesial setiap orang sering disebut angka hoki dengan berbagai makna filosofi orang tersebut. Hal ini tidak dapat dipungkiri setiap insan di dunia. Misalnya saja angka tiga (3) dalam Feng Shui memiliki berarti “menemukan,mendapatkan,hidup”. Apakah makna sama dengan yang dimaksud paket Harmoni?

Nomor tiga (3) Paket Harmoni (Benny K. Harman dan Benny A. Litelnoni) yang berhasil diundi dan ditetapkan KPUD NTT, di Hotel Aston Selasa (13/02/2018) dengan jargon Bhineka dengan lantang dan percaya diri simpatisan berucap “tiga-tiga-tiga-harmoni-harmoni-menang-menang”. Riuh para simpatisan tidak terhindarkan begitu juga paket calon lain.

Raut wajah kandidat Duo Benny terus berseri-seri, begitu pula istri tercinta mereka, para pimpinan partai koalisi tenggelam dalam lautan kebahagian sebab angka tiga (3) yang diharapkanpun datang seperti bayi dalam gendongan

Calon Gubernur Benny K. Harman, dalam komentarnya menjelaskan bahwa angka tiga (3) memiliki banyak makna namun dalam makna filosofi angka 3 merujuk pada salah satu sila Pancasila yaitu sila ke 3 “Persatuan Indonesia” yang merupakan Dasar Negara

“Makna filosofi 3 kita yang hoki adalah sila 3 Pancasila Sila Persatuan Indonesia yang tertuang dalam koalisi kita bhineka dengan jargon kita harmoni” ujar dia

Menurutnya persatuan dan kesatuan harus dijaga sesuai semboyan “Bhineka Tunggal Ika” berarti “berbeda-beda tetapi tetap satu” sebab bangsa Indonesia khususnya NTT adalah daerah pluralis dengan berbagai Suku, Agama, Ras dan Antar golongan (SARA) yang perlu di jaga keutuhannya  ibarat sapu lidi

Bukan tanpa alasan, BKH menyebut hal itu sebab di Negeri Ibu Pertiwi ini banyak masalah terkait isu Sara terus muncul seperti kasus penyerangan di gerja Santa Lidwina Minggu, (11/02/2018) beberapa hari lalu

Presiden Joko Widodo pernah menyeruhkan kepada kita semua saat Peringatan Hari Sumpa Pemuda agar kita tetap bekerja sama tanpa melihat perbedaan diantara kita. “Pemuda Indonesia! kita tidak sama,kita kerja sama” Ujar Mantan Gubernur DKI Jakarta seperti dilansir detiknews.com. Mari kita bersatu, singkirkan perbedaan. Kita berbeda kita kerja bersama demi NTT dan Indonesia lebih baik. (RI/AND)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *