MENATA DESA MENUJU INKLUSIF

Penulis : Umparu Rangga Landuawang / Staf Bengkel APPeK NTT

 

Desa pada waktu lalu selalu disandingkan dengan pembangunan yang lamban akan perubahan, Akan tetapi sejak UU Tentang Desa di implementasikan sejak tahun 2015 hingga kini berumur 3 tahun, semua perhatian mengarahkan pandangnya dan beramai-ramai berbondong ke desa, tidak hanya mereka yang tamatan pendidikan SMP bertarung mengurus desa, tetapi juga para sarjana berlomba untuk bersaing mendapatkan simpati sekaligus mengembangkan sumber daya yang dimilikinya untuk membangun desa kearah yang lebih baik dan mandiri.

Desa adalah lahan basah yang sudah menjadi perburuan oleh banyak pihak. Desa sekarang menurut pepatah kuno “dimana ada gula disitu ada semut” adalah pukulan telak buat para pemburu dana desa yang hanya memburu kepentingan saja tanpa imbas apa yang mau dibuat di desa. Desa menginginkan agar orang atau oknum yang ingin kembali ke desa dapat memaknai desa. Desa, dalam arti sebagai subjek apa yang mau dilakukan dan pembangunan apa yang menjadikan desa sebagai obyek pembangunan desa.

Hambatan berdesa sekarang adalah bagaimana merubah pemikiran tentang desa dalam nuansa inklusif yang secara harafiah berarti untuk semua, atau misalnya dapat dirumuskan desa untuk semua, atau bisa juga desa dihidupi oleh semua dan desa menghidupi untuk semua. inklusif dapat diartikan sebagai sebuah masyarakat yang mampu menerima berbagai bentuk keberagaman dan perbedaan serta mengakomodasinya ke dalam berbagai tatanan maupun infra struktur yang ada di masyarakat.

Desa akan lebih memiliki keleluasaan untuk membahas program dan kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan warga desa. Untuk menuju desa mandiri, jalannya tentu saja tidak mudah. Tetapi tentu saja bukan hal mustahil untuk dilaksanakan. Hal utama yang penting dilakukan tentu saja menyamakan persepsi dan komitmen untuk bersama-sama dari warga dan pemerintah desa. Tanpa adanya niat yang sama, maka tidak akan mungkin aset dan potensi desa bisa di optimalkan. Untuk bisa optimal, maka kesadaran tentang desa sebagai sumber penghidupan harus terus digaungkan.

Modal sosial masyarakat desa dalam tahapan sekarang adalah memberdayakan desa sebagai upaya mengembangkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat dengan meningkatkan pengetahuan, sikap, keterampilan, perilaku, kemampuan, kesadaran, serta memanfaatkan sumber daya melalui penetapan kebijakan, program, kegiatan, dan pendampingan yang sesuai dengan esensi masalah dan prioritas kebutuhan masyarakat desa. Sebab memaknai desa adalah memaknai struktur atau pola dinamika masyarakat yang erat akan persaudaraan dan gotong-royong.

Untuk mewujudkan desa yang inklusif maka perlu ada komitmen dari para pihak untuk memberikan ruang bagi kelompok rentan untuk turut serta dalam setiap proses pembangunan, dan menciptakan sarana prasarana yang ramah terhadap kelompok rentan. Semua stakeholder harus lebih peka terhadap keberadaan kelompok rentan (disabilitas) yang selama ini kurang dilibatkan dalam proses pembangunan.

Kepekaan dalam mendorong kelompok rentan untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan mulai dilakukan oleh pemerintah desa Mata Air dan Desa Noelbaki Kabupaten Kupang, salah satu cara yang dilakukan selama ini mengikut sertakan kelompok rentan yang selama ini belum pernah terlibat dalam proses pembangunan antara lain perempuan tani serabutan, penyandang disabilitas. Dari pelibatan inilah pemerintah desa di dua desa menyadari bahwa perlu ada terobsan yang di ambil untuk mendorong semua masyarakat dapat mengakses setiap proses pembangunan. Kini pemerintah desa dan masyarakat desa telah memberikan ruang lebih bagi kelompok rentan untuk berpartisipasi aktif, dan salah satu keseriusan pemerintah untuk mendorong pembangunan yang inklusif adalah mulai mengalokasikan anggaran bagi kelompok rentan. MARI BERSAMA MEWUJUDKAN PEMBANGUNAN YANG INKLUSIF

2 tanggapan untuk “MENATA DESA MENUJU INKLUSIF

  • Januari 31, 2018 pada 4:31 am
    Permalink

    Mantap…..
    Desa untuk menuju kemandiriannya msh sgt membutuhkan pendampingan dari berbagai pihak antara lain Pemerintah dari berbagai level, semua stakeholdes termasuk LSM yg punya kepedulian dlm pemberdayaan masyarakat…
    Terima kasih utk LSM yg telah mendukung pembangunan masyarakat desa di Kab. Kupang dan sinergitas ini msh sgt diharapkan dlm mewujudkan kemandirian desa di Kab. Kupang…
    DESA MEMBANGUN INDONESIA…
    JAYA DESAKU… JAYA INDONESIAKU…

    Balas
    • Januari 31, 2018 pada 4:45 am
      Permalink

      siap komandan, apakah ada di kantor oelamasi, saya ingin bertemu. saya Ayub Ndun pemimpin media ini komandan

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *